Hyper Parenting


(sumber : http://www.perempuan.com)

Bagian pertama ini adalah sepotong kisah sebelum anda berkenalan dengan Hyper Parenting.

Awalnya Andi adalah anak yang ceria dan penuh semangat. Namun beberapa minggu belakangan, ia berubah menjadi pemurung dan cenderung pemarah. Usianya memang baru 8 tahun, duduk di kelas 3 sebuah Sekolah Dasar yang cukup prestisius dan terpandang. Murid-murid disana adalah murid-murid berotak Einstein dan konon, lulusannya akan meraih beasiswa di sekolah lanjutan manapun.

Untuk bisa menyamai prestasi murid-murid lain di sekolah tersebut, di usia yang masih belia, Andi sudah dijejali dengan aktivitas yang menyamai orang dewasa, nyaris tanpa jeda. Bersekolah saban hari kecuali minggu), les bahasa Inggris, les matematika, les sempoa, les berenang, les musik, les komputer dan masih banyak lagi. Kedua orangtuanya pun mengatur jadwalnya dengan amat seksama, sampai detik per detiknya. Apa yang terjadi? Andi kehilangan waktu bermain.

Kedua orangtua Andi beralasan bahwa inilah yang terbaik bagi putranya. Mereka ingin jika Andi kelak dewasa bisa menjadi orang yang berguna dengan bekal ilmu sebanyak-banyaknya. Toh, Andi senang-senang saja menjalaninya karena ia tak pernah mengeluh. Jangan berpatokan pada rengekan anak karena secara tak sadar orangtua Andi telah berbuat Hyper Parenting atas nama kebaikan bagi sang buah hati.

Apakah pengalaman ini mirip pengalaman anda? Bila iya, bisa jadi anda pelaku Hyper Parenting juga.

Masih ingat dengan kisah si Andi yang mengalami Hyper Parenting dari kedua orangtuanya? sedikit mengurut dada anda bukan? Hyper parenting adalah sebuah upaya yang dilakukan orang tua untuk mengontrol semua lingkungan anak. Hal ini dilakukan agar mendapatkan bentuk profil anak yang sempurna.

Dewasa ini, banyak orangtua yang merasa khawatir akan masa depan anak-anak mereka. Akhirnya segala apa yang diupayakan orangtua untuk anak dianggap jalan terbaik tanpa melihat kebutuhan mereka. Over enriching dan over scheduling adalah kalimat yang tepat untuk menjelaskan hyper parenting.

Kebayakan orangtua pelaku hyper parenting belajar dari masa kecil dimana orangtua mereka
dulu mengasuh dan menerapkan pola yang dirasa kurang sempurna. Itu bisa dilihat saat para ortu tidak puas dengan karir dan kehidupan keseluruhan mereka sendiri. Akibatnya, obsesi plus yang belum kesampaian dibebankan pada anak-anaknya. Mereka jadi tak ingin anak-anaknya kekurangan dan tidak mendapatkan apa yang dimau, seperti saat mereka kecil dulu. Padahal belum tentu semua yang anda berikan pada anak sesuai dengan keinginannya, kebutuhannya dan minat serta bakat mereka.

Semua kesempatan memiliki segalanya malah menjadi bumerang bagi si kecil. Bisa terjadi, anak yang awalnya penurut, menjadi pemberontak karena segala macam objek yang harus dia kerjakan tak sesuai dengan hati nuraninya. Anda sebagai orangtua mesti menyadari bahwa anak punya kehidupan dan perkembangan individu yang sisinya tak bisa terjamah oleh bapak-ibunya sekalipun. Jadi bagaimana anak seharusnya hidup dan berkembang?

Bermain, eksplorasi, berekspresi berpendapat dan bahagia. Inilah yang seharusnya dilakukan dan dirasakan anak-anak dalam kehidupannya. Melalui keempat hal tersebut anak-anak bisa mempelajari sesuatu sehingga bisa mengembangkan seluruh potensi kecerdasan dan tumbuh kembangnya. Orang tua hanya perlu memberikan stimulus yang sesuai dengan usia dan tahapan tumbuh kembang anak.

Stimulasi pun diberikan hanya jika ada kesempatan dan tentunya penuh kegembiraan dan bukan paksaan agar si kecil tetap nyaman menjalaninya.

 

Ini dia ciri-ciri orangtua yang sudah menerapkan hyper parenting. Apakah ada salah satunya pada anda? Semoga tidak.

– Anda selalu menerapkan disiplin yang ketat, tidak mengenal situasi dan kondisi

– Prestasi kognitif yang secara fisik dapat terlihat pada anak, anda anggap menjadi patokan keberhasilan mereka

– Anda kerap alias sering membandingkan anak anda dengan anak orang lain secara ekstrim. Anda akan sangat kecewa dan terpukul jika anak gagal atau melakukan kesalahan

– Anda selalu merasa kurang pada apa yang telah dilakukan untuk anak – anak anda

– Anda kadang berperilaku tak masuk akal, seperti meminta anak tak bermain seharian dan memaksanya mengerjakan sesuatu kegiatan yang dianggap positif

– Anda kerap menganggap guru selalu tak cukup baik / berhasil dan menyalahkan mereka jika anak anda mengalami kegagalan

– Anda akan merasa sangat tersinggung jika anak dikritik, tetapi justru malah anda yang balik menekan anak

Wake up, anak bukanlah miniatur anda sebagai orang dewasa. Jadi tak perlu memaksa anak untuk menguasai, menyenangi semua hal yang anda anggap baik karena Tuhan menciptakan bakat dan kemampuan unik mereka berbeda-beda. Dunia mereka adalah dunia bermain, jadi masihkan anda ingin menyetirnya? Lihat apa yang akan terjadi jika anda terus menerus menyetir anak.

– Anak akan menjadi mudah marah
– Ia merasa tertekan, kelelahan akut dan mudah cemas
– Bisa menjadi pemberontak
– Sakit tanpa alasan, yang jelas biasanya mengeluhkan sakit kepala
– Sedikit bicara dan kurang ekspresif
– Menjadi tidak suka bergaul
– Empati kurang dan jika terus dibiarkan menjadi sangat materialitis
– Tidak bisa menyebutkan dengan sesungguhnya apa yang sebenarnya dia inginkan
– Tidak terlihat bahagia atau kurang bergairah

Bila sudah begini, segera perbaiki pola asuh Hyper parenting anda. Di bawah ini adalah beberapa saran agar terhindar dari jebakan hyper parenting :

1. Menyempatkan waktu bersama anak-anak. Tak ada kesempatan lebih efektif selain bersamanya. Ketahuilah masa kanak-kanak berlalu begitu cepat, tanpa kita sadari tiba-tiba mereka akan sibuk dengan teman sebayanya, pekerjaan dan akhirnya “meninggalkan” kita.

2. Belajar menjadi pendengar apa yang diinginkan anak. Kita sering menuntut mereka agar mendengarkan perintah dan nasehat kita tapi tidak adil jika kita tidak mau mendengar suara hati mereka. Dengan mendengar orang tua akan peka isyarat anak sekaligus memahami ritme alami anak. Orang tua akan mengetahui mana kegiatan pengayaan yang dibutuhkan anak dan mana yang tidak. Dan tanyakan terlebih dahulu apakah anak menyukai kegiatan tertentu atau tidak.

3. Sadari dimensi anak. Hindari menilai anak dari semua aspek kehidupannya. Masa kanak-kanak adalah masa persiapan, bukan tempatnya menetapkan standar kita kepada anak. Anak juga berhak gembira, bersenang-senang, beristirahat dan mempunyai waktu luang yang mereka isi sesuai pilihannya sendiri.

4. Biarkan sesekali anak tidak produktif. Orang tua kerap gerah melihat anak bersantai tanpa kegiatan produktif. Waktu tak produktif diperlukan anak untuk merangsang menciptakan sendiri kesenangannya.

5. Tidak membandingkan dengan anak lain atau membandingkan masa kanak kita dengan masa kanak anak sekarang. Sang pencipta telah memberi setiap anak keistimewaan dan keunikan masing – masing, maka hargailah keistimewaannya dengan tidak membandingkan dengan satu anak dengan anak yang lain. Yang terpenting kita motivasi mereka untuk siap bertarung dengan hidup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s