Ketika Si Upik Tak Juga Bisa Membaca


Ini dapet artikel bagus dari Tabloid Nova, kayaknya perlu juga untuk para ibu, so aku posting disini…

Jangan pernah memberi stempel “anak bodoh” jika si Kecil tertinggal pelajaran di sekolah. Bisa jadi, ia menderita kesulitan belajar. Tapi tak perlu cemas, karena sejumlah pesohor dunia ternyata penderita kesulitan belajar ketika kecil.

Menurut psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani, Psi, LD merupakan hambatan atau gangguan belajar pada anak dan remaja yang ditandai adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf intelegensi dan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai.

“Hal ini disebabkan gangguan di dalam sistem saraf pusat otak (gangguan neurobiologis) yang dapat menimbulkan gangguan perkembangan seperti gangguan perkembangan bicara, membaca, menulis, pemahaman, dan berhitung,” ujar psikolog yang akrab disapa Nina ini. Dan karena berpusat dari saraf, LD tak bisa dicegah.

Apakah anak yang mengalami LD berarti kecerdasannya kurang? Tidak. “Paling tidak kecerdasan mereka normal. Anak yang kecerdasannya kurang biasanya di berbagai aspek dia memang kurang. Sedangkan pada kasus LD, dia hanya kurang atau lemah di salah satu aspek sedangkan aspek lain, bagus.”

Meskipun begitu, jika tidak ditangani dengan baik dan benar, LD akan menimbulkan berbagai bentuk gangguan emosional (psikiatrik) yang akan berdampak buruk bagi perkembangan kualitas hidup penderita LD di kemudian hari.

DISLEKSIA
Disleksia adalah gangguan akan kemampuan membaca, yaitu kemampuan membaca anak berada di bawah kemampuan seharusnya, dengan mempertimbangkan tingkat inteligensi, usia, dan pendidikannya.

Gangguan ini bukan bentuk dari ketidakmampuan fisik, seperti masalah penglihatan, tetapi mengarah pada bagaimana otak mengolah dan memproses informasi yang sedang dibaca anak tersebut. Kesulitan ini biasanya baru terdeteksi setelah anak memasuki dunia sekolah untuk beberapa waktu.

Disleksia disebabkan adanya masalah di bagian otak, yang mengatur proses belajar. Faktor genetik atau keturunan juga berperan. Misalnya, jika seorang ayah susah membaca atau mengalami disleksia, bukan tidak mungkin si anak akan mengalami kesulitan serupa.

Ciri-ciri disleksia :
– Kesulitan dalam mengurutkan huruf-huruf dalam kata.
– Kesulitan merangkai huruf-huruf dan kadang ada huruf yang hilang.
– Sulit membedakan huruf. Anak bingung menghadapi huruf yang mempunyai kemiripan bentuk seperti b – d, u – n, m – n.
– Sulit mengeja kata atau suku kata dengan benar. Misalnya, sulit membedakan huruf-huruf pada kata ‘soto’ dan ‘sate’.
– Membaca satu kata dengan benar di satu halaman, tapi salah di halaman lainnya.
– Kesulitan memahami apa yang dibaca.
– Sering terbalik dalam menuliskan atau mengucapkan kata. Misalnya, ‘hal’ menjadi ‘lah.
– Terdapat jarak pada huruf-huruf dalam rangkaian kata. Tulisannya tidak stabil, kadang naik, kadang turun.

Anak baru bisa didiagnosis disleksia atau tidak saat anak di usia SD, yaitu sekitar 7-8 tahun. Karena di usia balita seorang anak belum ditargetkan untuk bisa membaca. “Jadi, paling tidak ada pengalaman satu atau dua tahun membaca, setelah itu baru dilihat apakah ada kesulitan, baru lalu didiagnosis disleksia,” ungkap Nina.

DISGRAFIA
Disebut disgrafia jika mengalami kesulitan dalam menulis yang meliputi hambatan fisik, seperti tidak dapat memegang pensil dengan mantap atau tulisan tangannya buruk. Seperti halnya disleksia, penderita disgrafia juga memiliki masalah di otak.

Ciri-ciri anak yang mengalami disgrafia :
– Ada ketidakkonsistenan bentuk huruf dalam tulisannya.
– Saat menulis, penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih tercampur.
– Ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional.
– Anak tampak berusaha keras saat mengkomunikasikan ide, pengatahuan dan perasaannya dalam bentuk tulisan.
– Sulit memegang alat tulis dengan mantap. Seringkali terlau dekat bahkan hampir menempel dengan kertas.
– Cara menulis tidak konsisten.
– Mengalami kesulitan meski hanya diminta menyalin contoh tulisan yang sudah ada.

Jika sejak awal tahu si anak mengalami disgrafia, sebaiknya kita tidak terlalu mengharapkannya bisa cepat menulis. Biarkan tetap berjalan dan latih anak sesuai dengan kemampuannya. Dengan proses belajar, lama-kelaman tulisannya akan jauh lebih rapi dan bisa dibaca. Apalagi kini frekuensi menulis tidak sebesar dulu karena sudah ada komputer dan sebagainya. Jadi, jangan dianggap hal ini sebagai gangguan.

Si Upik sudah duduk di kelas 3 SD, tetapi kenapa, ya, dibandingkan teman-teman sekelasnya, dia belum lancar membaca? Bahkan untuk membedakan antara huruf B dan D saja tidak bisa. Ya. Keluhan yang dialami Upik bukan tidak mungkin terjadi pada anak Anda. Jika demikian, bukan tidak mungkin Si Upik mengalami kesulitan belajar atau Learning Disorders (LD).

DISKALKULIA
Yakni ganguan pada kemampuan kalkulasi secara matematis.
Ciri-cirinya:
– Kesulitan dalam berhitung. Misalnya, sulit menghitung uang kembalian. Anak pun kadang menjadi takut memegang uang atau menghindari transaksi.
– Sulit melakukan proses matematis, seperti menjumlah, mengurang, dan membagi.
– Tidak mengerti dan tidak bisa membedakan simbol-simbol dalam pelajaran matematika.
Misalnya tidak dapat membedakan antara tanda – (minus) dengan +(plus), tanda + (plus) dengan x (kali), dan lain-lain.
– Sulit memahami konsep hitungan angka atau urutan.
– Bingung mengasosiasikan simbol dengan operasi matematika yang akan dijalankan. Semisal, tidak bisa membedakan apakah tanda + (plus) untuk penjumlahan atau pengurangan.

BELAJAR DARI TOM CRUISE
Tahukah Anda, anak yang mengalami LD bukan berarti nantinya tidak bisa menorehkan prestasi. Albert Einstein, John F. Kennedy, Mozart, John Lennon, Cher, Salma Hayek, Keira Knightley, dan Tom Cruise adalah beberapa publik figur yang mengalami disleksia.

Misalnya Tom Cruise. Aktor Hollywood ini mungkin lemah membaca tetapi pemahaman aktingnya bagus dan terbukti bisa menjadi aktor hebat. Berikut saran Nina bagi orangtua yang anaknya mengalami salah satu gangguan LD.

– Bawa ke psikolog. Psikolog-lah yang bisa menentukan, si anak menderita LD atau tidak. Karena bisa jadi metode belajarnyalah yang jadi penyebab. Semisal, anak selalu dimarahi saat belajar sehingga dia jadi malas belajar membaca dan menulis.

– Belajar yang menyenangkan. Melalui cara belajar yang menyenangkan, sedikit-sedikit dia akan bisa. Turunkan juga target belajarnya agar anak tak terlalu stres.

– Beri dorongan. Jangan sampai si anak merasa rendah diri. Artinya, jangan sampai ketidakmampuannya dalam membaca atau menulis diumbar ke orang lain. Beri dorongan supaya dia bisa dan mau belajar.

– Terapi bersama. Terapi bisa dilakukan dan lebih bagus jika bersama orang tua anak. Jika hanya dilakukan oleh terapis, tidak ada kedekatan antara orangtua-anak dan orangtua juga tidak terlalu tahu perkembangan anak.

– Tak perlu kelas khusus. Penderita LD tidak harus masuk kelas khusus karena kemampuan mereka relatif sama dengan anak-anak lain. Kalau memungkinkan, mereka tetap berada satu kelas dengan teman-teman mereka tetapi pendekatannya lebih spesial. Semisal, jika kesulitan membaca sebaiknya dibacakan secara lisan atau ada teman yang membantu. Jika ditempatkan di sekolah khusus, kemampuan-kemampuan lainnya malah jadi tidak berkembang.

– Kemampuan lain. Dorong dan kembangkan kemampuan anak yang menonjol di bidang lain. Jangan sampai gara-gara tidak bisa baca masa depan anak jadi hancur total.

PERLUNYA DETEKSI DINI
Orangtua perlu melakukan deteksi dini LD. Tanda-tanda kesulitan belajar sangat bervariasi dan tergantung pada usia anak. Berikut beberapa tanda-tandanya:
– Daya ingat (relatif) kurang baik
– Sulit dalam mempelajari keterampilan baru, terutama yang membutuhkan kemampuan daya ingat
– Sangat aktif dan tidak mampu menyelesaikan satu tugas atau kegiatan tertentu dengan tuntas
– Impulsif (bertindak sebelum berpikir)
– Sulit konsentrasi atau pehatiannya mudah teralih
– Sering melakukan pelanggaran baik di sekolah atau di rumah
– Problem emosional seperti mengasingkan diri, pemurung, mudah tersinggung atau acuh terhadap lingkungannya
– Menolak bersekolah
– Mengalami kesulitan dalam mengikuti petunjuk atau rutinitas tertentu
– Ketidakstabilan dalam menggenggam pensil/pen
– Kesulitan dalam mempelajari pengertian tentang hari dan waktu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s